Eliana: Serial Anak-anak Mamak -Bukan Novel Biasa-


Kata tetua bijak, manusia memiliki sendiri hari-hari spesialnya. Ada hari ketika ia dilahirkan, hari mulai belajar merangkak, hari mulai berjalan hingga bisa berlari. Manusia tumbuh besar dengan hari-hari. Jatuh, bangun, sakit, sehat, tertawa, menangis, sendirian, ramai, sukses, gagal, semua dilalui bersama hari-hari. Tentu termasuk salah-satunya hari ketika kita pertama kali bertemu dengan pasangan hidup.

"Schat, esok lusa, saat kau besar, di tengah dunia yang maju, kau akan menemukan pemahaman yang lebih rumit dibanding yang kau pahami sekarang. Feminisme, kesetaraan jender... Oi, aku bahkan tak fasih mengatakan istilah itu... sudah ada sejak dulu. Pemahaman itu kadang amat berlebihan. Esok lusa, misalnya, kau akan menemukan sekelompok orang yang sibuk menuduh sebuah agama tidak adil, menyimpulkan suatu agama berat sebelah pada perempuan. Padahal mereka lupa, di semua agama, laki-laki adalah imam. Kau tentu tahu posisi seorang Paus dalam agama Kristen, bukan? Tidak pernah ada Paus seorang perempuan. Sama halnya dengan agama-agama lain."

"Dan soal truk-truk... percayalah pada Paman. Ada suatu masa di antara masa-masa. Ada suatu musim di antara musim-musim. Ada saatnya ketika alam memberikan prlawanan sendiri. Saat ketika hutan, sungai, lembah, membalas sendiri para perusaknya." Aku menatap Paman tidak mengerti. Paman tersenyum, mengangguk mantap, "Suatu saat kau akan paham maksudnya. Ilmu seperti itu tidak memerlukan pendidikan tinggi. Hanya memerlukan kearifan memahami tabiat alam."

“Dan Mamak kau juga yang selalu pertama dalam urusan lainnya. Dia yang yang pertama bangun, dia yang pertama membereskan rumah, dia yang pertama kali mencuci, mengelap, mengepel, dia yang pertama kali ada saat kalian terluka, menangis, sakit. Dia yang pertama kali memastikan kalian baik-baik saja. Mamak kau yang selalu pertama dalam urusan itu, Amel. Tidak pernahkah kau memperhatikannya?”

"Kau sungguh tidak berhak bilang itu, Eli. Bukan karena Mamak lebih tahu banyak hal dibandingkan anak gadis sulungnya. Bukan pula karena kau belum pernah menjadi wanita dewasa, sementara mamak kau sudah makan garam kehidupan, dan tentu saja pernah menjadi gadis remaja seperti kau. Bukan karena itu semua... Kau tidak seharusnya bilang itu, karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Pukat dan Burlian, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta serta rasa sayangnya kepada kalian."

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Subhanallah, buku ini sungguh bukan novel biasa. Tere-liye menyentuh sekaligus memotivasi kita dengan dialog dan karakter tokoh-tokoh di novelnya yang terasa 'nyata'. Saya sendiri merasa ada keterkaitan dengan tokoh Eliana -anak sulung, superior, ber-ego tinggi, sering disuruh-suruh, berwatak keras, mempunyai adik yang 'bandel'- :).

Buku Eliana ini sebenarnya merupakan sekuel ke-4 dari tetralogi Serial Anak-anak Mamak. Eliana merupakan anak sulung dari 4 bersaudara keluarga Bapak Syahdan dan Ibu Nur. Eliana mempunyai 3 orang adik: Pukat 'Si Anak Pintar', Burlian 'Si Anak Spesial, dan Amelia. Tiap anak di keluarga itu memiliki julukan yang diberi oleh orangtua mereka sejak mereka lahir, Eliana mempunyai julukan 'Si Anak Pemberani' dan memang jadilah ia gadis yang pemberani. Di buku ini diceritakan ketika Eliana berusia 12 tahun, ketika ia duduk di kelas 6 SD. Tidak mau kalah, tetap bersemangat sekolah, memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap alam dan lingkungan, mengurus adik-adik adalah karakter dan keseharian Elina yang diceritakan di buku setebal 519 halaman ini.

Ceritanya mengalir dan mudah dicerna sehingga novel setebal ini tidak perlu waktu lama untuk membacanya. Saya sendiri selesai membaca novel ini 2 malam disela-sela menugas, sekitar 4-5 jam. Buku ini benar-benar cerminan keluarga impian. Anak-anak dapat belajar dari Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia; sementara orangtua bisa belajar dari cara mendidik Mamak dan Bapak membesarkan mereka. Sangat direkomendasikan untuk bahan bacaan orangtua serta (calon) orangtua yang ingin mempunyai anak-anak cemerlang!

Happy weekend readers,
 
Nisaa.

2 comments:

Marina Fauzia said...

ina selalu suka gaya bahasa nisa kalau lagi menceritakan sesuatu, persuasif..antusias,hihi..apa itu termasuk karakteristik sanguinis ya,but anyway..jadi pengen baca novelnya sa..
*pinjeeemmmm* :D

Nisaa said...

@ina: haha inaa.. tulisanku "meluap-luap" ya na? :p baca na, baguus banget. pinjem? nisa aja pinjem sama temen!

Post a Comment


up