Mengalahkan Laki-Laki

Gerakan feminisme yang menuntut kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan seringkali membuat perempuan merasa perlu melawan laki-laki. Di sisi lain, kodrat bahwa perempuan dan laki-laki saling membutuhkan tidak bisa dihindari. Keadaan ini tentu cukup membuat perempuan serba salah. Keinginan dicintai dan mencintai, keberadaan seorang suami yang mengisi kebutuhan lahir-bathin, keluarga yang memberikan makna atas status istri dan ibu, adalah mimpi semua perempuan normal yang tentu hanya bisa didapatkan bersama seorang laki-laki. Namun, realita ketimpangan hubungan laki-laki dan perempuan, di luar maupun setelah berada dalam lembaga perkawinan, membuat perempuan perlu “melawan” dominasi laki-laki yang mengatasnamakan kepemimpinan. Perlawanan yang dipicu dikotomisasi peran publik dan domestik ini membuat perempuan ingin menaklukkan laki-laki dalam dua konteks sekaligus. Konteks sebagai kompetititor di area publik dan konteks hubungan antara laki-laki dan perempuan.
           
Ruang perempuan untuk mengalahkan laki-laki dalam konteks peran publik boleh dikatakan menampakkan hasil yang nyata. Tidak tanggung-tanggung, persaingan politik memperebutkan pucuk pimpinan hingga level tertinggi pun diwarnai tokoh perempuan. Kompetisi laki-laki dan perempuan di wilayah ini mengarah pada konsep meniadakan perbedaan jenis kelamin. Kualitas dan akseptabilitas-lah yang dijadikan tolok ukur kemenangan. Meski awalnya tidak mudah menerima sosok pemimpin perempuan, toh opini dan penerimaan masyarakat bisa dikondisikan. Artinya, nyaris tidak ada masalah dalam pertandingan ini.
           
Nah, masalah justru timbul ketika perempuan mencoba menanamkan dominasinya atas hubungan laki-laki dan perempuan. Perempuan menduga bahwa mereka harus berpikir seperti laki-laki, yakni memiliki pasangannya. Parahnya, cara-cara yang ditempuh perempuan untuk mempertahankan “miliknya” tersebut juga mengikuti gaya laki-laki. Menunjukkan supremasi eksistensinya. Beberapa memang berhasil, setidaknya secara lahir. Begitu berhasilnya, sampai-sampai laki-laki pasangannya manut, menurut, pokoknya AIS (Asal Istri Senang). Padahal menurut saya, cara berpikir perempuan yang seperti ini justru berbahaya. Perempuan tidak akan berhasil memiliki kemenangan yang sesungguhnya saat dia mencoba mengalahkan mereka dengan mendominasinya. Bahkan, meski perempuan tersebut memiliki alat yang bisa memperkuat dominasi. Misalnya, kemampuan lebih dari sisi ekonomi, strata sosial, peran publik, intelegensia maupun penampilan. Tidak.            

Adalah Khadijah, istri Muhammad S.A.W yang bisa dijadikan contoh nyata bagaimana “mengalahkan” laki-laki dalam artian yang sesungguhnya. Bagaimana tidak. Saat menikah dengan Rasul, usianya sudah 40 tahun. Usia yang terlalu matang untuk ukuran perempuan. Statusnya janda, bukan gadis atau perawan. Memang dia kaya dan terpandang, tetapi laki-laki yang ia pilih adalah pemuda miskin dan yatim yang ia kagumi kepribadiannya. Artinya, bukan persoalan fisik dan biologis yang mendorong Khadijah memilih “daun muda” berusia 25 tahun itu. Apa yang kemudian terjadi? Selama sekitar 25 tahun masa pernikahan, Khadijah berhasil memenangkan hubungan sejati laki-laki dan perempuan. Tidak dengan kelebihan status sosial, harta, usia, maupun dominasinya. Ia mengalahkan laki-laki itu dengan menawan perasaan Muhammad S.A.W seumur hidupnya.
             
Bayangkanlah. Seorang pemuda umur 25 tahun menikahi janda umur 40 tahun tanpa orang ketiga (madu) selama 25 tahun lebih pernikahan mereka. Bukankah Muhammad S.A.W baru berpoligami setelah Khadijah tiada? Artinya, kalau Khadijah hendak memenangkan hubungan dengan mengandalkan pesona fisik, jelas ia kalah. Muhammad S.A.W adalah laki-laki dengan tampilan fisik sempurna yang bisa menawan perempuan mana saja. Didukung kepribadian yang tiada bandingan, semestinya bila sekedar menuruti hawa nafsu, banyaklah perempuan yang mau. Tapi, hanya Khadijah perempuan yang melekat selama itu. Masih belum cukup, setelah Khadijah meninggal dan Muhammad S. A. W menikahi banyak perempuan termasuk Aisyah yang muda, cantik, cerdas dan perawan, namanya tetap erat terpatri di hati Rasul. Begitu lekatnya, Rasul sering menyebut-nyebut namanya dan masih menjalin hubungan baik dengan orang-orang terdekat istri pertamanya tersebut, termasuk dengan cara rajin mengirim hadiah pada mereka. Aisyah pernah kena marah karena ia mengungkapkan kekesalannya atas sikap Rasul tersebut. “Bukankah Allah telah memberi ganti yang lebih baik?” ketus Aisyah. Rasul adalah orang yang nyaris tidak pernah marah (kecuali untuk urusan agama). Tapi, beliau menjadi merah padam mukanya dan berkata keras, “Demi Allah! Allah tidak pernah memberikan ganti yang lebih baik!...” Bayangkan! Tidak ada yang lebih baik dari Khadijah. Bahkan, Aisyah beserta seluruh gabungan istri-istrinya kemudian.
           
Apa yang membuat Khadijah tak terkalahkan? Pengorbanannya. Dukungannya. Kasih sayangnya. Bukan hartanya. Bukan senioritasnya. Bukan kedudukan sosialnya. Apa yang disebut Rasul adalah kemampuan yang semua perempuan mampu mengupayakan. Artinya, semua perempuan mempunyai peluang untuk memenangkan hubungannya dengan laki-laki melalui hal-hal di atas. Mencoba memenangkan laki-laki lewat fisik sangatlah temporer. Pun harta dan kedudukan. Tapi, memenangkan dengan bukti cinta dan kasih sayang adalah lebih nyata. Laki-laki jangan dilawan. Laki-laki seharusnya ditawan. Hanya dengan itu perempuan bisa menang.


Mba, tulisanmu. Karyamu. Kangen.


Nisaa

0 comments:

Post a Comment


up