Mbah Jo

Saya lagi nonton The Voice season 4 episode 21, disitu ada salah seorang kontestan asuhannya Blake Shelton yang nyanyiin lagu "Grandpa (Tell Me 'bout The Good Ol' Days)". Saya dengar liriknya, wow kok bagus ya.. Simple yet beautiful. Pas digugling ternyata itu lagu jadul dari The Judds.


Grandpa, tell me 'bout the good old days 
Sometimes it feels like this worlds gone crazy 
Grandpa, take me back to yesterday 
When the line between right and wrong 
Didn't seem so hazy 

Did lovers really fall in love to stay 
And stand beside each other, come what may 
Was a promise really something people kept 
Not just something they would say 
Did families really bow their heads to pray 
Did daddies really never go away 
Oh, grandpa, tell me 'bout the good old days 

Ah saya jadi inget kakek di Samarinda, i call him "Mbah Jo". He really likes telling me story. Mostly about his old days. Kakek saya cerita bagaimana hidup di jaman Belanda masih menjajah, masa kemerdekaan, pun ketika Jepang masih menjajah. Bagaimana dulu ketika baru merdeka, dimana banyak teman-temannya yang memalsukan identitas dengan mengaku lulusan setara SMP/SMA agar dapat menduduki posisi pemerintahan, Mbah Jo tidak mau seperti itu. Mbah Jo tetap mengaku lulusan Sekolah Rakyat. Kata Mbah Jo, "Saya gak mau ngasi makan keluarga saya dari ketidakjujuran."

Yang saya ingat lagi dari Mbah Jo adalah di usianya yang menginjak 75 tahun ini Mbah Jo selalu ingin bekerja. Beliau gak pernah mau diam. Padahal semua anak-anaknya sudah mapan dan rutin memberi uang. Entah baikin sepeda orang (Mbah Jo punya bengkel kecil-kecilan), berkebun, ke pasar dan lain-lain. Saya jarang sekali melihat Mbah Jo santai di rumah. Padahal ibaratnya di usia yang sudah segitu wajar kan ya kalau stay di rumah, gak usah kerja.

Ah, saya kangen sekali sama Mbah Jo. Setiap kali nelpon, selalu saya speechless karena menahan tangis mendengar ucapannya. Ucapannya selalu berisi untaian doa dan harapan. Agar saya baik-baik disini. Agar saya menjaga hubungan baik dan selalu santun dengan tiap orang yang saya kenal. Agar saya giat belajar supaya bisa dapat kerjaan baik, supaya bisa berbakti kepada orang tua.. Ya Rabb, sungguh hamba rindu dengan Mbah Jo. Rabb, panjangkan umurnya.. Berikan kesehatan padanya.. Izinkan hamba untuk sempat membuat beliau bangga.. Mohon dengan sangat ya Rabb.. Kabulkan ya Rabb.. Aamiin.

Nisaa.

Movie Review: Before Sunrise (1995) and Before Sunset (2004)

Apa rasanya nonton film berdurasi hampir 2 jam yang isinya kedua tokoh utamanya ngobrol doang? Bosen? Iya, gue juga gitu mikirnya. Itu sebelom gue nonton Before Sunrise dan sekuelnya, Before Sunset. Ohmen, ini film super bagus dua ribu tiga belas! Seriusan, ini gue gak lebay. Banyak yang bilang, film ini adalah film ter-romantis sepanjang masa~ Rating Before Sunset di romat (Rotten Tomatoes) aja 100%, kalau Before Sunrise 95% *yeah gue emang anak romat abis*. Dengan rating segitu tingginya, ini film wajar jadi film wajib nonton kan ya..


Before Sunrise ceritanya tentang Jesse (Ethan Hawke), pemuda Amerika yang abis euro trip. Di kereta, si Jesse ketemu sama Celine (Julie Delpie), cewek Perancis yang habis nengok neneknya di Budapest. Setelah ngobrol berapa menit di resto kereta, si Jesse ngajakin Celine buat keliling Vienna sampai sebelom penerbangan besok pagi balik ke Amerika. Awalnya Celine ragu, tapi akhirnya setuju. Nah, berpetuanglah mereka berdua. Sepanjang perjalanan mereka ngobrol panjang lebar. Literally ngobrol. Konten obrolannya pun cerdas, dari mulai hal remeh temeh sampai kehidupan. Kalaupun tentang cinta, bukan konsep cinta dangkal yang diomongin. Ah nonton sendiri deh, kalau gue kasitau jadi spoiler. Gue menikmati banget setiap detiknya mereka ngobrol. Menurut gue, yang jadi Jesse sama Celine ini chemistry-nya luar biasa. Mereka kayak potongan puzzle yang posisinya bersebelahan. Klop.
"You know what drives me crazy? It's all these people talking about how great technology is, and how it saves all this time. But, what good is saved time, if nobody uses it? If it just turns into more busy work. You never hear somebody say, "With the time I've saved by using my word processor, I'm gonna go to a Zen monastery and hang out". I mean, you never hear that." - Jesse
Di film ini gak ada dialog menye-menye khas film romance amerika. Lu bakal terkesima sama dialog cerdas di tempat kejadian yang sering kita temuin sehari-hari. Entah jalanan, tempat makan, kafe, dan lain-lain. Film ini berhasil memotret sudut-sudut Vienna dengan apik. Gue suka banget sama kilasan tempat ngobrol Jesse dan Celine di Vienna yang diputar di ending film. Nostalgic. Seperti yang gue bilang, tempat mereka ngobrol gak spesial atau gimana, tempat biasa aja. Tapi bagi kita yang udah menyaksikan film ini, begitu liat tempat-tempat itu jadi berasa spesial, ada kisahnya. Sama aja kayak tiap orang yang punya tempat-tempat yang memorable padahal bagi orang lain biasa aja. We feel special about certain place that only US can feel it. Itu salah satu hal yang berhasil disampaikan secara gak langsung sama film ini.

Oh, Sunday.

Sunday is the day when we suddenly have the magical capability of staring back pretentiously while asked, "HAH? Jam segini belom mandi?" - @NYLYS

The Mentalist


I decided i'm not gonna watching The Mentalist anymore after this fifth season. I did not enjoy this season at all. The episodes are starting to get boring and tiring. I think the writers are starting to run out of good story lines for episodes. And the Red John case? Pfft, even I don't really care who Red John is anymore.

Couple years ago when i start watching this show i'm amazed how the Patrick Jane character works. His reformed flimflam man takes a cool, roguish pleasure in solving murders by reading the same tells and tics he once used to con people into thinking they were talking to dead loved ones. The joy is Jane's sheer satisfaction in figuring out who is the murder, he'd be glad to throw in the embarrassing revelation as a freebie. There something delightful for me about how Jane looks at the rest of us as simple machines whose gears he can see whirring on the surface.

But that delightful days is over. Good bye, Patrick Jane! I'm not gonna watch you anymore!

Nisaa.

up