Prasangka

Berbeda jauh dengan suasana kereta AC pada umumnya, kereta ekonomi non-AC Jabodetabek yang lumayan panas hawa dalamnya. Penumpang saling dempet berdempet. Kebanyakan berdiri. Saling berusaha menyeimbangkan tubuh agar tidak terbawa godaan gerbong yang kadang berguncang.

Seorang eksekutif muda, berdiri di antara mereka. Sesak-sesakan dengan penumpang lain. Pakaiannya adalah jas elegan. Keringat terlihat beberapa tetes. Cukup bersih. Setidaknya, beda jelas dengan lainnya.

Lalu, ia membuka HP Tablet Androidnya. Besar. Lebih besar tentu dibanding HP umumnya. Ia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat tentang dana untuk membantu orang-orang kebanjiran.

Semuanya menoleh padanya atau meliriknya. Apa batin mereka?

Di pintu, ada seorang pemuda lusuh membatin, 'Huh, pamer dia dengan barangnya. Sudah tahu di kereta Ekonomi.'

Di belakang pemuda lusuh itu, seorang pedagang membatin, 'Mentang-mentang sekali HP nya seperti itu dipamerkan. Sudah tahu di kereta Ekonomi.'

Seorang nenek-nenek membatin, 'Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik kereta Ekonomi, pamer-pameran.'

Seorang emak-emak membatin, 'Mudah-mudahan suami saya ga senorak dia. Norak di kereta Ekonomi bukanlah hal terpuji.''

Seorang gadis ABG membatin, 'Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik kereta AC saja kalau mau pamer begituan?'

Seorang pencopet mengintai, 'Ini penghinaan buat gue. Seenggaknya gue ga bakal nilep barang terang-terangan. Nape ni orang ga naek kereta AC aje si? Pamer segala!'

Seorang pengusaha membatin, 'Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. Hhh...andai dia merasakan jerih pahit saya jadi pengusaha; barang tentu saya tidak akan pamer barang itu di kereta Ekonomi. Kenapa tidak naik AC saja sih?'

Seorang ustadz kampung melirik, 'Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu. Urusan pamer, naiklah ke kereta AC.'

Seorang pelajar SMA membatin, 'Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC. Kalo gitu kan, lo bisa pamer abis. Di sono mah comfort gila. Illfeel gue.'

Seorang tentara membatin, 'Nyali kecil, pamer gede-gedean. Dikira punya saya tak segede itu. Kalau mau belagak pamer, pamer sekalian di kereta AC.'

Seorang penderita busung lapar membatin, 'Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil. Padahal kereta untuk orang semacam ini adalah kereta AC, bukan kereta ekonomi yang isinya rakyat kecil.'

Seorang mahasiswa di kampus ternama membatin, 'Gue ga tega orang begini idup. Gue agak heran, ni orang nyawanya berape. Belagu amaat! Pengen banget gue usir biar die naik kereta AC aja.'

Si eksekutif muda tersenyum. Ia menyimpan tabletnya di tas. Pikirannya hanya terfokus pada dana. Ia tersenyum membatin, 'Alhamdulillah, akhirnya para donatur bersedia membantu semuanya. Alhamdulillah. Ini kabar baik sekali.'

Lalu, ia sempatkan melihat kantong bajunya. Secarik tiket kereta ekonomi di dalamnya.

Ia bergumam, 'Tadi sempat tukaran karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan selamat.'
--------------------------------------------------------------

Sepenggal artikel itu saya dapatkan dari postingan Path dan broadcast whatsApp beberapa hari lalu. Benar-benar membuat introspeksi, betapa sesungguhnya kita gak hanya harus berhati-hati dengan lisan, tapi juga dengan prasangka.  Biasakan untuk berprasangka baik.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa...” (QS. Al-Hujurat: 12)

Suatu ketika Rasulullah Saw pernah marah dengan salah seorang sahabatnya. Karena ketika peperangan, sahabat tersebut membunuh seorang pasukan kafir yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Sahabat ini berkilah kalau itu hanya siasat pasukan kafir agar tidak dibunuh. Rasululllah Saw dengan tenang menjawab ucapan sahabat tersebut apakah sahabat tersebut sudah membedah tubuh pasukan kafir dan melihat bahwa hatinya benar2 kotor..

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling bohong.” (Hadis Muttafaq’alaih)

Saya ingat pernah mendengar taujih kalau prasangka buruk itu lahir dari hati yang jauh dari Allah Swt. Kalaupun ia beribadah, ibadahnya hanya sebatas ritual. Tidak ada kenikmatan dalam melakukan amalan-amalan baik. Prasangka buruk itu juga mengikis objektifitas dalam berfikir. Duh, betapa signifikan kerugian yang ditimbulkan hanya dari perkara sepele: prasangka.

Ah semoga kita termasuk ke dalam golongan mukmin yang gak pernah lelah untuk merawat hati. Yang senantiasa menyiram tanaman hati dengan air ruhiyah bermineral tinggi, menebar pupuk amal kebaikan penuh manfaat, juga rutin mengecek dan segera mencabut benalu prasangka buruk sembari berdoa:

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian (bersemi) dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman: Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

Nisaa.

0 comments:

Post a Comment


up